PEKANBARU – Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau pada Senin (24/8/2026) pagi. Kondisi udara yang memburuk membuat sejumlah sekolah memutuskan meliburkan siswa dan mengalihkan kegiatan belajar ke sistem daring.
Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, konsentrasi partikulat PM10 pada pukul 13.00 WIB tercatat 182.69 µg/m³.
Angka tersebut masuk dalam kategori Tidak Sehat. Meski demikian, pada pukul 11.00 WIB konsentrasi PM2.5 sempat turun menjadi 39.8 µg/m³ dengan kategori sedang.
“Kondisi kualitas udara bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer maupun sumber emisi di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya,” ujar Analis BMKG Stasiun Pekanbaru.
BMKG menyebut penurunan kualitas udara dipicu oleh kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. Data satelit hari ini mencatat 17 titik panas di Riau, dengan rincian 9 titik di Pelalawan, 7 di Indragiri Hilir, dan 1 di Indragiri Hulu. Dari jumlah itu, dipastikan ada 10 titik api aktif, masing-masing 5 titik di Pelalawan dan 5 titik di Indragiri Hilir.
Pantauan di lapangan menunjukkan jarak pandang berkurang dan langit Pekanbaru tampak jingga. Sebagian warga mengeluhkan sesak napas, mata perih, dan batuk.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia PDPI Wilayah Riau mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. “Ini sebagai proteksi saluran napas dari paparan kabut asap yang bisa menimbulkan keluhan sesak napas, batuk, dan nyeri tenggorokan,” kata Sekretaris PDPI Riau, dr. Indra Yovi, Sp.P(K).
Sebagai langkah antisipasi, beberapa sekolah di Pekanbaru telah mengumumkan pembelajaran daring hingga kondisi membaik. Warga juga diminta memperbanyak minum air putih dan membatasi aktivitas luar ruangan.
Hingga berita ini diturunkan, Pemko Pekanbaru belum mengeluarkan kebijakan penutupan sekolah secara menyeluruh. Masyarakat diimbau memantau informasi resmi dari BMKG dan Dinas Kesehatan terkait kualitas udara.
Sumber: BMKG Pekanbaru












